Perbedaan TER dan Tarif Progresif PPh 21: Mana yang Lebih Menguntungkan?
Sejak 2024, karyawan dan HRD mulai familiar dengan istilah TER (Tarif Efektif Rata-rata) untuk perhitungan PPh 21. Tapi tunggu dulu — apakah metode lama dengan tarif progresif sudah tidak dipakai? Apa perbedaan keduanya? Dan yang paling penting: mana yang lebih menguntungkan untuk Anda?
Mari kita bedah tuntas perbedaan TER dan tarif progresif dalam perhitungan PPh 21.
Sekilas: TER vs Tarif Progresif
TER (Tarif Efektif Rata-rata)
Metode perhitungan PPh 21 sederhana yang digunakan untuk pemotongan pajak bulanan (Januari-November). Diatur dalam PMK 168/2023 dan PP 58/2023.
Formula:
PPh 21 Bulanan = Penghasilan Bruto × Tarif TER
Tarif Progresif
Metode perhitungan PPh 21 tradisional dengan tarif bertingkat berdasarkan PKP (Penghasilan Kena Pajak). Digunakan untuk perhitungan akhir tahun (Desember).
Formula:
PPh 21 = PKP × Tarif Progresif (5%, 15%, 25%, 30%, 35%)
Perbedaan Fundamental
1. Dasar Perhitungan
| Aspek | TER | Tarif Progresif |
|---|---|---|
| Dasar hitung | Penghasilan Bruto | Penghasilan Kena Pajak (PKP) |
| Komponen pengurang | Sudah otomatis | Harus dihitung manual |
| PTKP | Sudah built-in dalam tarif | Harus dikurangi manual |
| Biaya jabatan | Sudah built-in | Harus dikurangi manual (5%) |
| BPJS | Sudah built-in | Harus dikurangi manual |
Contoh dasar hitung:
TER:
Gaji bruto Rp 10.000.000
Langsung pakai tarif TER → 2%
PPh 21 = Rp 200.000
Progresif:
Gaji bruto Rp 10.000.000
- Biaya jabatan (5%) = Rp 500.000
- BPJS (4%) = Rp 400.000
= Penghasilan netto Rp 9.100.000 × 12 = Rp 109.200.000
- PTKP TK/0 = Rp 54.000.000
= PKP Rp 55.200.000
× Tarif 5% = Rp 2.760.000/tahun
÷ 12 = Rp 230.000/bulan
2. Kompleksitas Perhitungan
TER: ⭐ Sangat Mudah
# Hanya 2 langkah:
1. Hitung penghasilan bruto
2. Kalikan dengan tarif TER
# Selesai!
Tarif Progresif: ⭐⭐⭐ Lumayan Ribet
# 7 langkah:
1. Hitung penghasilan bruto
2. Kurangi biaya jabatan
3. Kurangi iuran pensiun
4. Kurangi BPJS
5. Hitung penghasilan netto tahunan
6. Kurangi PTKP
7. Hitung dengan tarif bertingkat
# Capek deh...
3. Kategori dan Tarif
TER: 3 Kategori (A, B, C)
Berdasarkan status PTKP, dengan tarif efektif langsung pakai:
| Kategori | Status PTKP | Lapisan Tarif | Rentang |
|---|---|---|---|
| A | TK/0, TK/1, K/0 | 44 lapisan | 0% - 34% |
| B | TK/2, TK/3, K/1, K/2 | 40 lapisan | 0% - 34% |
| C | K/3 | 41 lapisan | 0% - 34% |
Tarif Progresif: 5 Bracket
Berdasarkan PKP tahunan, dengan tarif marginal:
| PKP (per tahun) | Tarif |
|---|---|
| 0 - Rp 60 juta | 5% |
| Rp 60 juta - Rp 250 juta | 15% |
| Rp 250 juta - Rp 500 juta | 25% |
| Rp 500 juta - Rp 5 miliar | 30% |
| > Rp 5 miliar | 35% |
4. Periode Penggunaan
| Metode | Periode | Tujuan |
|---|---|---|
| TER | Januari - November | Pemotongan pajak bulanan yang simple |
| Progresif | Desember | Perhitungan ulang & penyesuaian akhir tahun |
Kenapa begini?
- Jan-Nov: Pakai TER supaya gampang, cepat, dan konsisten
- Desember: Pakai progresif untuk memastikan total pajak setahun akurat sesuai UU PPh Pasal 17
Perbandingan Detail: Studi Kasus
Mari kita bandingkan kedua metode dengan contoh nyata:
Kasus 1: Gaji Rp 10 Juta (TK/0)
Data:
- Gaji + tunjangan: Rp 10.000.000
- Status: TK/0 (Tidak Kawin, 0 Tanggungan)
- PTKP: Rp 54.000.000
Perhitungan TER (Bulan Januari):
Penghasilan Bruto = Rp 10.000.000
Status TK/0 → Kategori A
Lihat tabel TER A → Tarif 2%
PPh 21 = Rp 10.000.000 × 2% = Rp 200.000
Hasil: Potong Rp 200.000 di bulan Januari
Perhitungan Progresif (Jika dipakai di Januari):
Penghasilan Bruto Tahunan = Rp 10.000.000 × 12 = Rp 120.000.000
- Biaya Jabatan (5%, max 6 juta) = Rp 6.000.000
- BPJS (4%) = Rp 4.800.000
= Penghasilan Netto = Rp 109.200.000
- PTKP (TK/0) = Rp 54.000.000
= PKP = Rp 55.200.000
Tarif Progresif:
- Rp 55.200.000 × 5% = Rp 2.760.000/tahun
÷ 12 = Rp 230.000/bulan
Hasil: Potong Rp 230.000 di bulan Januari
Selisih: Rp 30.000 (TER lebih kecil)
Kasus 2: Gaji Rp 25 Juta (K/2)
Data:
- Gaji + tunjangan: Rp 25.000.000
- Status: K/2 (Kawin, 2 Tanggungan)
- PTKP: Rp 67.500.000
Perhitungan TER:
Penghasilan Bruto = Rp 25.000.000
Status K/2 → Kategori B
Lihat tabel TER B → Tarif 3,5%
PPh 21 = Rp 25.000.000 × 3,5% = Rp 875.000
Perhitungan Progresif:
Penghasilan Bruto Tahunan = Rp 25.000.000 × 12 = Rp 300.000.000
- Biaya Jabatan (max) = Rp 6.000.000
- BPJS (4% × 12 juta max) = Rp 5.760.000
= Penghasilan Netto = Rp 288.240.000
- PTKP (K/2) = Rp 67.500.000
= PKP = Rp 220.740.000
Tarif Progresif:
- Rp 60 juta × 5% = Rp 3.000.000
- Rp 160.740.000 × 15% = Rp 24.111.000
= Total = Rp 27.111.000/tahun
÷ 12 = Rp 2.259.250/bulan
Hasil TER: Rp 875.000/bulan Hasil Progresif: Rp 2.259.250/bulan
Selisih: Rp 1.384.250 (TER jauh lebih kecil!)
Tunggu dulu! Apakah ini berarti TER lebih murah?
Fakta Penting: Total Pajak Setahun SAMA!
Inilah yang sering membingungkan: potongan bulanan TER vs Progresif memang beda, tapi total setahun tetap sama!
Bagaimana Bisa?
Di bulan Desember, dilakukan perhitungan ulang dengan metode progresif:
1. Jumlahkan PPh 21 yang sudah dipotong Jan-Nov (pakai TER)
2. Hitung PPh 21 setahun dengan progresif
3. Selisihnya dipotong/dikembalikan di bulan Desember
Contoh (Kasus 2 di atas):
PPh 21 Jan-Nov (TER):
Rp 875.000 × 11 bulan = Rp 9.625.000
PPh 21 setahun (Progresif):
Rp 27.111.000
Kekurangan:
Rp 27.111.000 - Rp 9.625.000 = Rp 17.486.000
Potongan di Desember:
Rp 17.486.000
Kesimpulan: Total tetap Rp 27.111.000, sama dengan metode progresif!
Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan TER
✅ Sangat mudah — cukup kali penghasilan bruto dengan tarif ✅ Cepat — tidak perlu hitung komponen pengurang satu-satu ✅ Konsisten — potongan bulanan Jan-Nov sama (jika gaji tetap) ✅ Transparan — karyawan mudah memahami ✅ Minim kesalahan — sederhana jadi jarang salah hitung ✅ Efisien untuk payroll — proses gaji lebih cepat
Kekurangan TER
❌ Potongan bulanan bisa berbeda dengan metode lama ❌ Surprise di Desember — bisa kaget dengan penyesuaian besar ❌ Belum familiar — butuh waktu untuk terbiasa ❌ Tidak cocok untuk gaji tidak tetap — harus hitung ulang tiap bulan
Kelebihan Tarif Progresif
✅ Akurat untuk total tahunan — sesuai UU PPh Pasal 17 ✅ Fair based on ability to pay — makin besar penghasilan, makin besar tarif ✅ Sudah familiar — dipakai puluhan tahun ✅ Transparan komponen pengurang — semua detil keliatan
Kekurangan Tarif Progresif
❌ Ribet — banyak komponen yang harus dihitung ❌ Rawan salah — kalau manual, mudah keliru ❌ Lama — proses payroll jadi lebih panjang ❌ Sulit dipahami karyawan — banyak yang bingung kenapa segitu
Mana yang Lebih Menguntungkan?
Jawaban Singkat: SAMA SAJA!
Total pajak setahun Anda tetap sama dengan metode apapun, karena:
- TER didesain agar total setahun = progresif
- Penyesuaian di Desember memastikan kesesuaian
- Regulasi memastikan tidak ada yang dirugikan
Tapi Ada Nuansanya...
TER lebih "menguntungkan" untuk:
- 💰 Cash flow — potongan bulanan lebih kecil (Jan-Nov)
- 🧠 Mental accounting — gaji bersih bulanan lebih besar
- ⏰ Waktu — tidak perlu pusing hitung sendiri
Progresif lebih "menguntungkan" untuk:
- 📊 Transparansi detail — lihat semua komponen pengurang
- 🎯 Akurasi bulanan — potongan konsisten dengan total tahunan
- 📉 Predictability — tidak ada surprise di Desember
Tips Menghadapi Sistem TER
1. Pahami Kategori TER Anda
Pastikan Anda tahu status PTKP dan kategori TER (A/B/C) yang berlaku.
2. Cek Slip Gaji
Pastikan HRD menerapkan tarif TER yang benar sesuai kategori Anda.
3. Siapkan Buffer untuk Desember
Karena penyesuaian di Desember bisa signifikan, sisihkan sedikit dari gaji Jan-Nov untuk jaga-jaga.
4. Gunakan Kalkulator
Untuk memahami berapa potongan Anda, gunakan Kalkulator PPh 21 yang sudah otomatis pakai TER.
5. Simpan Bukti Potong
Minta formulir 1721-A1 dari perusahaan setiap tahun untuk pelaporan SPT.
Contoh Nyata: Simulasi Setahun
Mari kita lihat simulasi full year untuk gaji Rp 15 juta (K/1):
Metode TER (Berlaku sekarang):
Jan-Nov: Rp 15.000.000 × 2,75% = Rp 412.500/bulan
Rp 412.500 × 11 = Rp 4.537.500
Des: Penyesuaian berdasarkan perhitungan progresif
Total setahun (setelah penyesuaian): Rp 7.500.000
Metode Progresif Lama (Jika masih dipakai):
Setiap bulan: Rp 625.000 (hasil dari PKP tahunan ÷ 12)
Jan-Des: Rp 625.000 × 12 = Rp 7.500.000
Total setahun: SAMA - Rp 7.500.000
Perbedaan:
- Dengan TER: cash flow lebih baik Jan-Nov, adjust di Des
- Dengan Progresif: konsisten tiap bulan
FAQ: Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Q: Apakah TER membuat pajak saya lebih besar?
A: Tidak. Total pajak setahun tetap sama. TER hanya mengubah cara hitung bulanan.
Q: Kenapa potongan bulanan TER bisa lebih kecil?
A: TER didesain agar potongan Jan-Nov lebih smooth, dengan penyesuaian di Desember.
Q: Apakah saya bisa pilih mau pakai TER atau Progresif?
A: Tidak bisa. Semua perusahaan wajib pakai TER sejak 1 Januari 2024 sesuai PMK 168/2023.
Q: Bagaimana jika gaji saya naik di tengah tahun?
A: Tarif TER akan disesuaikan di bulan tersebut berdasarkan penghasilan bruto yang baru.
Q: Apakah bonus dan THR pakai TER juga?
A: Bonus dan THR menggunakan tarif TER khusus yang berbeda. Sebaiknya hitung terpisah.
Kesimpulan
Perbedaan utama TER dan tarif progresif ada di cara hitung dan periode penggunaan, bukan di total pajak tahunan.
TER:
- Sederhana, cepat, mudah
- Dipakai Jan-Nov
- Potongan bulanan lebih smooth
Progresif:
- Detail, komprehensif
- Dipakai untuk final calculation di Desember
- Sesuai UU PPh Pasal 17
Mana yang lebih baik? Tidak ada yang lebih baik. Keduanya sama-sama valid dan menghasilkan total pajak setahun yang sama.
Yang penting: pahami sistem yang berlaku, cek slip gaji Anda, dan pastikan perhitungan benar.
Untuk menghitung PPh 21 Anda dengan metode TER terbaru, gunakan Kalkulator PPh 21 kami yang akurat dan sesuai PMK 168/2023.
Referensi:
- PMK No. 168/2023 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemotongan PPh Pasal 21
- PP No. 58/2023 tentang Tarif Pemotongan PPh Pasal 21
- UU HPP (Harmonisasi Peraturan Perpajakan)
- Direktorat Jenderal Pajak - FAQ TER PPh 21
Table of Contents
Share this article if you found it helpful