Margin vs Markup: Apa Bedanya dan Mana yang Lebih Penting untuk UMKM?

8 min read

Salah satu kesalahan paling umum yang dilakukan pebisnis pemula adalah mencampur-adukkan margin dan markup. Padahal, keduanya adalah konsep yang sangat berbeda dan bisa berdampak besar pada strategi pricing dan profitabilitas bisnis Anda.

Dalam artikel ini, kita akan membahas perbedaan mendasar antara margin dan markup, cara menghitungnya, kapan menggunakan yang mana, dan mana yang lebih penting untuk kesehatan bisnis UMKM.

Apa Itu Markup?

Markup adalah persentase keuntungan yang dihitung dari harga modal (COGS - Cost of Goods Sold).

Rumus Markup:

Markup (%) = ((Harga Jual - Harga Modal) / Harga Modal) × 100%

Atau lebih sederhana:

Markup (%) = (Laba / Harga Modal) × 100%

Contoh Markup:

Anda membeli baju dengan harga grosir Rp 50.000, lalu menjualnya Rp 100.000.

Markup = ((100.000 - 50.000) / 50.000) × 100%
       = (50.000 / 50.000) × 100%
       = 100%

Artinya: Anda menambahkan (markup) 100% dari harga modal.

Apa Itu Margin?

Margin (atau margin keuntungan/profit margin) adalah persentase keuntungan yang dihitung dari harga jual.

Rumus Margin:

Margin (%) = ((Harga Jual - Harga Modal) / Harga Jual) × 100%

Atau lebih sederhana:

Margin (%) = (Laba / Harga Jual) × 100%

Contoh Margin:

Dengan data yang sama (beli Rp 50k, jual Rp 100k):

Margin = ((100.000 - 50.000) / 100.000) × 100%
       = (50.000 / 100.000) × 100%
       = 50%

Artinya: Dari setiap Rp 100.000 penjualan, 50% atau Rp 50.000 adalah keuntungan.

Perbedaan Utama Margin vs Markup

AspekMarkupMargin
RumusLaba / Harga Modal × 100%Laba / Harga Jual × 100%
Basis PerhitunganDari harga modal (cost)Dari harga jual (revenue)
NilaiLebih besar dari marginLebih kecil dari markup
PenggunaanRetail tradisional, pricing strategyAnalisis profitabilitas, laporan keuangan
Fokus"Berapa kali lipat dari modal?""Berapa persen dari penjualan yang jadi profit?"

Contoh Perbandingan: Margin vs Markup

Mari kita lihat beberapa contoh untuk memahami perbedaannya:

Contoh 1: Bisnis Sembako

  • Harga Modal: Rp 9.000
  • Harga Jual: Rp 10.000
  • Laba: Rp 1.000

Markup:

Markup = (1.000 / 9.000) × 100% = 11,1%

Margin:

Margin = (1.000 / 10.000) × 100% = 10%

Interpretasi:

  • Markup 11,1% terdengar lebih besar, tapi sebenarnya margin hanya 10%
  • Untuk produk volume tinggi seperti sembako, margin 10% masih wajar

Contoh 2: Bisnis Fashion

  • Harga Modal: Rp 40.000
  • Harga Jual: Rp 120.000
  • Laba: Rp 80.000

Markup:

Markup = (80.000 / 40.000) × 100% = 200%

Margin:

Margin = (80.000 / 120.000) × 100% = 66,7%

Interpretasi:

  • Markup 200% = 2 kali lipat dari modal
  • Margin 66,7% = sangat sehat untuk bisnis fashion

Contoh 3: Bisnis F&B (Kopi)

  • Harga Modal: Rp 5.000 (kopi, gula, susu)
  • Harga Jual: Rp 20.000
  • Laba: Rp 15.000

Markup:

Markup = (15.000 / 5.000) × 100% = 300%

Margin:

Margin = (15.000 / 20.000) × 100% = 75%

Interpretasi:

  • Markup 300% = 3 kali lipat dari biaya bahan baku
  • Margin 75% = sangat ideal untuk F&B (perlu cover sewa, gaji, listrik, dll)

Tabel Konversi Markup ke Margin

Berikut tabel konversi untuk memudahkan Anda memahami hubungan antara markup dan margin:

MarkupMarginContoh Kasus
10%9,1%Sembako, retail volume tinggi
25%20%Elektronik, gadget
43%30%Retail umum
67%40%Produk branded
100%50%Fashion, kosmetik
150%60%F&B, jasa
200%66,7%Fashion premium
300%75%Kopi, minuman
400%80%Luxury goods

Rumus Konversi:

Dari Markup ke Margin:

Margin = (Markup / (100 + Markup)) × 100%

Dari Margin ke Markup:

Markup = (Margin / (100 - Margin)) × 100%

Kapan Menggunakan Markup?

Markup lebih cocok digunakan untuk:

1. Strategi Pricing (Penentuan Harga)

Ketika Anda ingin menentukan harga jual berdasarkan modal.

Rumus:

Harga Jual = Harga Modal × (1 + (Markup / 100))

Contoh:

  • Modal: Rp 50.000
  • Target markup: 100%
  • Harga Jual = 50.000 × (1 + 1) = Rp 100.000

2. Komunikasi dengan Tim Sales

"Markup produk ini 50%" lebih mudah dipahami sales daripada "margin 33,3%".

3. Retail Tradisional

Pedagang pasar tradisional biasanya berpikir: "Beli Rp 50k, jual Rp 100k = markup 2x (100%)".

4. Perbandingan Antar Produk

Membandingkan kelipatan profit antar produk yang berbeda.

Kapan Menggunakan Margin?

Margin lebih cocok untuk:

1. Analisis Profitabilitas Bisnis

Margin memberikan gambaran sebenarnya tentang persentase profit dari revenue.

Kenapa penting?

  • Margin 50% artinya dari Rp 100 juta omzet, Rp 50 juta adalah profit
  • Lebih mudah untuk proyeksi laba rugi

2. Laporan Keuangan

Semua laporan keuangan standar (income statement) menggunakan margin, bukan markup.

3. Benchmark Industri

Data benchmark industri selalu menggunakan margin (gross margin, net margin).

4. Perhitungan Break Even Point (BEP)

Rumus BEP menggunakan margin, bukan markup.

BEP (unit) = Biaya Tetap / (Harga Jual - Biaya Variabel per Unit)

5. Analisis Multi-Product

Ketika Anda punya banyak produk, margin lebih mudah untuk agregasi.

Kesalahan Umum yang Harus Dihindari

❌ Kesalahan 1: Menganggap Margin 50% = Markup 50%

Fakta:

  • Margin 50% = Markup 100%
  • Margin 40% = Markup 67%
  • Margin 30% = Markup 43%

Dampak: Jika Anda salah menghitung, harga jual bisa terlalu rendah dan profit tidak sesuai target.

❌ Kesalahan 2: Menggunakan Markup untuk Proyeksi Profit

Contoh Salah:

  • Omzet target: Rp 100 juta
  • Markup: 50%
  • "Profit saya 50% dari 100 juta = Rp 50 juta" ❌

Perhitungan Benar:

  • Markup 50% = Margin 33,3%
  • Profit sebenarnya: 33,3% × Rp 100 juta = Rp 33,3 juta

❌ Kesalahan 3: Markup Negatif Saat Diskon

Ketika Anda beri diskon, markup bisa negatif, tapi margin masih positif (atau negatif juga).

Contoh:

  • Modal: Rp 50.000
  • Harga Normal: Rp 100.000 (margin 50%)
  • Harga Diskon: Rp 40.000

Markup:

Markup = ((40.000 - 50.000) / 50.000) × 100% = -20%

Margin:

Margin = ((40.000 - 50.000) / 40.000) × 100% = -25%

Kedua-duanya negatif = Anda jual rugi!

Studi Kasus: Mana yang Lebih Penting?

Kasus: Toko Baju Online

Data:

  • Modal baju: Rp 60.000
  • Harga jual: Rp 150.000
  • Omzet bulanan: Rp 30 juta
  • Biaya operasional: Rp 5 juta/bulan

Perhitungan Markup:

Markup = ((150.000 - 60.000) / 60.000) × 100% = 150%

Perhitungan Margin:

Margin Gross = ((150.000 - 60.000) / 150.000) × 100% = 60%

Analisis dengan Markup (SALAH): "Wah, markup saya 150%, berarti profit saya 150% × Rp 30 juta = Rp 45 juta!" ❌

Analisis dengan Margin (BENAR):

Gross Profit = 60% × Rp 30 juta = Rp 18 juta
Biaya Operasional = Rp 5 juta
Net Profit = Rp 18 juta - Rp 5 juta = Rp 13 juta ✅

Kesimpulan: Margin lebih akurat untuk analisis profitabilitas!

Mana yang Lebih Penting: Margin atau Markup?

Jawabannya: Keduanya penting, tapi untuk tujuan berbeda.

Gunakan MARKUP untuk:

✅ Menentukan harga jual (pricing strategy) ✅ Komunikasi dengan tim sales ✅ Perbandingan produk secara cepat

Gunakan MARGIN untuk:

✅ Analisis profitabilitas bisnis ✅ Laporan keuangan ✅ Benchmark dengan kompetitor/industri ✅ Proyeksi laba rugi ✅ Perhitungan BEP

Rekomendasi: Untuk kesehatan bisnis jangka panjang, fokus pada MARGIN, bukan markup. Margin memberikan gambaran yang lebih akurat tentang profitabilitas bisnis Anda.

Cara Menghitung Margin dan Markup dengan Mudah

Untuk mempermudah perhitungan margin dan markup, gunakan Kalkulator Margin Keuntungan yang otomatis menghitung:

  1. Margin dari harga jual dan modal
  2. Markup dari harga jual dan modal
  3. Perbandingan margin vs markup untuk edukasi
  4. Harga jual dari target margin (reverse calculation)
  5. Margin bersih setelah fee marketplace (untuk e-commerce)

Kalkulator juga memberikan:

  • Warning jika margin terlalu rendah (<20%)
  • Tips pricing per industri
  • Benchmark margin ideal

Coba Kalkulator Margin Keuntungan →

Kesimpulan

Memahami perbedaan margin dan markup sangat penting untuk kesuksesan bisnis UMKM Anda. Berikut poin-poin penting:

Markup dihitung dari harga modal, margin dihitung dari harga jualMarkup selalu lebih besar dari margin untuk produk yang sama ✅ Gunakan markup untuk pricing strategy, gunakan margin untuk analisis profitabilitasMargin lebih penting untuk kesehatan bisnis jangka panjang ✅ Jangan pernah asumsikan margin 50% = markup 50% (salah besar!) ✅ Gunakan kalkulator untuk menghindari kesalahan perhitungan

Dengan memahami keduanya, Anda dapat:

  • Menentukan strategi pricing yang tepat
  • Menganalisis profitabilitas dengan akurat
  • Membuat keputusan bisnis yang lebih baik
  • Menghindari kerugian akibat salah perhitungan

Jadi, sudah paham bedanya? Sekarang saatnya hitung margin dan markup bisnis Anda dengan benar!

margin
markup
umkm
pricing-strategy
profit-margin
Share This

Share this article if you found it helpful

T
Tim Redaksi
Kelompok profesional berdedikasi dalam jurnalisme dan penulisan, berkomitmen menyajikan konten berkualitas tinggi, akurat, dan relevan dengan perspektif luas dalam berbagai bidang.